Di setiap bulan November ada
satu hari yang paling bersejarah bagi seluruh masyararakat Indonesia yaitu
hari pahlawan yang jatuh setiap tanggal 10 November untuk memperingati hari
tersebut di artikel ini saya akan membahas salah satu pahlawan Indonesia yang
sangat hebat untuk memperjuangkan bangsa
Indonesia yaitu Jendral Soedirman.
SEJARAH
SINGKAT JENDERAL SUDIRMAN DARI BERBAGAI SUMBER
Jenderal Besar TNI Anumerta Soedirman adalah
seorang pahlawan nasional Indonesia yang berjuang pada masa Revolusi Nasional
Indonesia. Dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia, ia dicatat sebagai
Panglima dan Jenderal RI yang pertama dan termuda. Saat usia Soedirman 31 tahun
ia telah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit tuberkulosis paru-paru
yang parah, ia tetap bergerilya dalam perang pembelaan kemerdekaan RI. Pada
tahun 1950 ia wafat karena penyakit tuberkulosis tersebut dan dimakamkan di
Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta.
Riwayat Hidup
Soedirman lahir di Bodas Karangjati,
Purbalingga, Jawa Tengah, 24 Januari 1916 – meninggal di Magelang, Jawa Tengah,
29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Soedirman dibesarkan dalam lingkungan keluarga
sederhana. Ayahnya, Karsid Kartowirodji, adalah seorang pekerja di Pabrik Gula
Kalibagor, Banyumas, dan ibunya, Siyem, adalan keturunan Wedana Rembang.
Soedirman sejak umur 8 bulan diangkat sebagai anak oleh R. Tjokrosoenaryo,
seorang asisten Wedana Rembang yang masih merupakan saudara dari Siyem.
Pendidikan
Soedirman memperoleh pendidikan
formal dari Sekolah Taman Siswa. Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru)
Muhammadiyah, Surakarta tapi tidak sampai tamat. Soedirman saat itu juga giat
di organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Setelah itu ia menjadi guru di sekolah HIS
Muhammadiyah di Cilacap.
Karir militer
- Ketika jaman pendudukan Jepang, ia masuk tentara
Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor di bawah pelatihan tentara Jepang.
- Setelah menyelesaikan pendidikan di PETA, ia menjadi
Komandan Batalyon di Kroya, Jawa Tengah. Kemudian ia menjadi Panglima
Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi
Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TKR).
- Soedirman dikenal oleh orang-orang di sekitarnya dengan
pribadinya yang teguh pada prinsip dan keyakinan, dimana ia selalu
mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan
pribadinya, bahkan kesehatannya sendiri. Pribadinya tersebut ditulis dalam
sebuah buku oleh Tjokropranolo, pengawal pribadinya semasa gerilya,
sebagai seorang yang selalu konsisten dan konsekuen dalam membela
kepentingan tanah air, bangsa, dan negara.
- Pada masa pendudukan Jepang ini, Soedirman pernah
menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Karesidenan Banyumas. Dalam saat ini ia mendirikan koperasi untuk
menolong rakyat dari bahaya kelaparan.
Paska kemerdekaan Indonesia
Setelah berakhirnya Perang Dunia II,
pasukan Jepang menyerah tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu dan Soekarno
mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Soedirman mendapat prestasi pertamanya
sebagai tentara setelah keberhasilannya merebut senjata pasukan Jepang dalam
pertempuran di Banyumas, Jawa Tengah. Soedirman mengorganisir batalyon PETA-nya
menjadi sebuah resimen yang bermarkas di Banyumas, untuk menjadi pasukan perang
Republik Indonesia yang selanjutnya berperan besar dalam perang Revolusi
Nasional Indonesia.
Sesudah Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan
pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 12 November 1945, Soedirman
terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang RI. Selanjutnya
dia mulai menderita penyakit tuberkulosis, walaupun begitu selanjutnya dia
tetap terjun langsung dalam beberapa kampanye perang gerilya melawan pasukan
NICA Belanda.
Peran dalam Revolusi Nasional
Indonesia
Menangnya Pasukan Sekutu atas Jepang
dalam Perang Dunia II membawa pasukan Belanda untuk datang kembali ke kepulauan
Hindia Belanda (Republik Indonesia sekarang), bekas jajahan mereka yang telah
menyatakan untuk merdeka. Setelah menyerahnya pasukan Jepang, Pasukan Sekutu
datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang. Ternyata
pasukan sekutu datang bersama dengan tentara NICA dari Belanda yang hendak
mengambil kembali Indonesia sebagai koloninya. Mengetahui hal tersebut, TKR pun
terlibat dalam banyak pertempuran dengan tentara sekutu.
Perang besar pertama yang dipimpin
Soedirman adalah perang Palagan Ambarawa melawan pasukan Inggris dan NICA
Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945. [3] Pada
Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Soedirman terlibat pertempuran
melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember 1945,
Soedirman melancarkan serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris di
Ambarawa. Pertempuran terkenal yang berlangsung selama lima hari tersebut
diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir
tanggal 16 Desember 1945.
Setelah kemenangan Soedirman dalam
Palagan Ambarawa, pada tanggal 18 Desember 1945 dia dilantik sebagai Jenderal
oleh Presiden Soekarno. Soedirman memperoleh pangkat Jenderal tersebut tidak
melalui sistem Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya, tapi karena
prestasinya.
Peran dalam Agresi Militer II
Belanda
Saat terjadinya Agresi Militer II
Belanda, Ibukota Republik Indonesia dipindahkan di Yogyakarta, karena Jakarta
sudah diduduki oleh tentara Belanda. Soedirman memimpin pasukannya untuk
membela Yogyakarta dari serangan Belanda II tanggal 19 Desember 1948 tersebut.
Dalam perlawanan tersebut, Soedirman sudah dalam keadaan sangat lemah karena
penyakit tuberkulosis yang dideritanya sejak lama. Walaupun begitu dia ikut
terjun ke medan perang bersama pasukannya dalam keadaan ditandu, memimpin para
tentaranya untuk tetap melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda secara
gerilya.
Penyakit yang diderita Soedirman
saat berada di Yogyakarta semakin parah. Paru-parunya yang berfungsi hanya
tinggal satu karena penyakitnya. Yogyakarta pun kemudian dikuasai Belanda,
walaupun sempat dikuasai oleh tentara Indonesia setelah Serangan Umum 1 Maret
1949. Saat itu, Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dan beberapa anggota kabinet
juga ditangkap oleh tentara Belanda. Karena situasi genting tersebut, Soedirman
dengan ditandu berangkat bersama pasukannya dan kembali melakukan perang
gerilya. Ia berpindah-pindah selama tujuh bulan dari hutan satu ke hutan lain,
dan dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah dan dalam kondisi
hampir tanpa pengobatan dan perawatan medis. Walaupun masih ingin memimpin
perlawanan tersebut, akhirnya Soedirman pulang dari kampanye gerilya tersebut
karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkannya untuk memimpin Angkatan
Perang secara langsung. Setelah itu Soedirman hanya menjadi tokoh perencana di
balik layar dalam kampanye gerilya melawan Belanda.
Setelah Belanda menyerahkan
kepulauan nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja
Bundar tahun 1949 di Den Haag, Jenderal Soedirman kembali ke Jakarta bersama
Presiden Soekarno, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.
Ketokohan Soedirman
Jenderal Sudirman merupakan salah
satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh
suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal.
Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda.
Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di
kepanduan Hizbul Wathan.
Ketika pendudukan Jepang, ia masuk
tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan,
langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas
sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang
Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan
yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik
Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal
pertama dan termuda Republik ini.
Sudirman merupakan salah satu
pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan
keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di
atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela
kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi
Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad
ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin
dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap
Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar
yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.
Sudirman yang dilahirkan di Bodas
Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memperoleh pendidikan formal dari
Sekolah Taman Siswa, sebuah sekolah yang terkenal berjiwa nasional yang tinggi.
Kemudian ia melanjut ke HIK (sekolah guru) Muhammadiyah, Solo tapi tidak sampai
tamat. Sudirman muda yang terkenal disiplin dan giat di organisasi Pramuka
Hizbul Wathan ini kemudian menjadi guru di sekolah HIS Muhammadiyah di Cilacap.
Kedisiplinan, jiwa pendidik dan kepanduan itulah kemudian bekal pribadinya
hingga bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.
Sementara pendidikan militer
diawalinya dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (Peta) di
Bogor. Setelah selesai pendidikan, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di
Kroya. Ketika itu, pria yang memiliki sikap tegas ini sering memprotes tindakan
tentara Jepang yang berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak
buahnya. Karena sikap tegasnya itu, suatu kali dirinya hampir saja dibunuh oleh
tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, dalam
suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan
Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan
Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian
diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui
Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar
TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18
Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.
Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau
pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.
Ketika pasukan sekutu datang ke
Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda
ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara
sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman
terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12
Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua
kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya
memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.
Pada saat pasukan Belanda kembali
melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda,
Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah
dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit.
Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang
berfungsi.
Dalam Agresi Militer II Belanda itu,
Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta
serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu,
walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal
dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya
karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat
akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.
Maka dengan ditandu, ia berangkat
memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh
bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung
ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga
hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan
petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia
harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang
secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.
Sudirman yang pada masa pendudukan
Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan
Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk
menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang
tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.
Kematian
Pada tangal 29 Januari 1950,
Jenderal Soedirman meninggal dunia di Magelang, Jawa Tengah karena sakit
tuberkulosis parah yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan
Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela
Kemerdekaan. Pada tahun 1997 dia mendapat gelar sebagai Jenderal Besar Anumerta
dengan bintang lima, pangkat yang hanya dimiliki oleh beberapa jenderal di RI
sampai sekarang.
Warisan budaya
- Patung dan monumen Jenderal Soedirman didirikan di
banyak kota di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya.
- Banyak kota besar di Indonesia mempunyai jalan raya
yang dinamakan “Jalan Jenderal Sudirman”.
- Monumen Jenderal Soedirman di Surabaya
- Sebuah perguruan tinggi negeri di Purwokerto, Jawa
Tengah diberi nama Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Sumber:
http://tamasekarelok.blogspot.co.id/2011/10/sejarah-singkat-jenderal-sudirman-dari.html