Jam

Selasa, 08 Januari 2019

Buku Laporan

BUKU LAPORAN

 TUGAS SOFTSKILL


Pengantar Bisnis Informatika”








Nama Kelompok:
1.   Ketut Suke Yane (53415685)
2.   M.Yusuf (53415973)
3.   Muhammad Alianda (54415494)
4.   Rikal Dwi Laksono (55415988)









Laporan tugas kelompok mata kuliah pengantar bisnis informatika (Softskill) yang kami buat dengan pembagian tugas sebagai berikut:
1.   Pertemuan pertama : Pemberian materi dan tugas oleh dosen matakuliah  pengantar bisnis Informatika.


2.  Pertemuan Kedua : PembuatanProfil perusahaan. (PT.SAMUDERA LOGISTIK)  dengan rincian pembagian tugas sebagai berikut:
Ø Deskripsi Perusahaan  (Ketut suke yane)
Ø Riwayat Perusahaan  (Rikal Dwi Laksono)
Ø Lingkungan usaha dan pendapatan pertahun   (M.Yusuf)
Ø Informasi Penting     (Muhammad Alianda).


3.   Pertemuan Ketiga  :
Prosedur dan Legalitas Mendirikan  Sebuah Perusahaan  dengan  rincian pembagian tugas sebagai berikut:
Ø  Langkah – langkah pendirian suatu perusahaan
 (Muhammad alianda)
Ø  Cek dan nama perusahaan (M.Yusuf)
Ø  Akta pendirian perseroaan terbatas (Rikal Dwi Laksono)
Ø  Surat keterangan Domisili Perusahaan (Ketut Suke Yane)
Ø  Pengesahaan anggaran dasar perseroan terbatas
 (Rikal Dwi Laksono)
Ø  Surat izin usaha perdagangan (M.Yusuf)
Ø  Tanda Daftar Perusahaan  (Ketut Suke Yane)
Ø  BNRI dan TBNRI (Muhammad Alianda)



4.   Pertemuan keempat :
Dengan rincian pembagian tugas sebagai berikut
Ø Cara membuat dokumen perusahaaan (Ketut Suke Yane)
Ø Profil perusahaan bolt (M.Yusuf)
Ø Proposal (Muhammad Alianda)
Ø Buku Laporan (Rikal Dwi Laksono)

Demikian hasil laporan dari pembagian tugas matakuliah pengantar bisnis informatika (softskill) dari kelompok kami apabila ada kekurangan mohon dimaafkan. Atas perhatiannya kelompok kami mengucapkan banyak terimakasih



 


Contoh proposal bisnis

PROPOSAL
BOGOR AGROVILLAGE














 















                                        Nama Kelompok:

                                           1.   Ketut Suke Yane  (53415685)
                                           2.   M.Yusuf   (53415973)
                                           3.   Muhhammad Alianda  (54415494)
                                           4.   Rikal Dwi Laksono   (55415988)












BAB I

1.1              Latar Belakang

Besarnya laju pertumbuhan penduduk serta tingginya aktivitas pembangunan di kota besar telah mengurangi jumlah lahan pertanian produktif akibat maraknya konversi lahan. Menipisnya lahan pertanian produktif tiap tahunnya ini akan berdampak pada menurunnya produksi komoditas pertanian, tidak stabilnya kondisi lingkungan, serta hilangnya mata pencaharian utama bagi penduduk setempat. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang dapat menjadi titik temu untuk mempertahankan fungsi lahan sebagai tempat bertani sekaligus untuk memenuhi kebutuhan rumah hunian terutama di derah Kota Bogor.

1.2     Profil Perusahaan
PT Agrovillage Indonesia adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian dan perikanan menggunakan pola muamalah syariah dalam penerapan bisnisnya. Berdasarkan akta pendirian, maksud dan tujuan perusahaan ini adalah untuk melaksanakan jenis usaha di bidang agribisnis.




BAB II

DESKRIPSI BISNIS


2.1    Deskripsi Umum

Bogor Agrovillage merupakan salah satu unit bisnis dari PT Agrovillage Indonesia yang bergerak dalam pengembangan wilayah strategis di Kota Bogor untuk dijadikan lahan pertanian terpadu sekaligus tempat hunian rumah tinggal.

Lokasi lahan
 Kel. Semplak Kec. Bogor Barat Kota Bogor
Peruntukan
:
Lahan pertanian terpadu
Komoditas utama
:  Sayur dan buah organik
Luas Lokasi
:
19.634m2
Luas Kavling
:
500 m2
Jumlah Bangunan
:
25 unit
Periode Pengembangan
:
1 tahun
Nilai Penjualan
:
Rp 10.000.000.000,-
Pinjaman/Investment
:
Rp
5.000.000.000,-
Keuntungan
:
Rp
5.000.000.000,-
Developer
:
PT Agrovillage Indonesia


2.2    Latar Belakang Industri

Besarnya laju pertumbuhan penduduk serta tingginya aktivitas pembangunan di kota besar telah mengurangi jumlah lahan pertanian produktif akibat maraknya konversi lahan. Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian Republik Indonesia, alih fungsi lahan pertanian produktif di Kota Bogor untuk pengembangan pemukiman dan pembangunan lainnya mencapai 20 hektar per tahun. Menipisnya lahan pertanian tiap tahunnya ini akan berdampak pada menurunnya produksi komoditas pertanian, tidak stabilnya kondisi lingkungan, serta hilangnya mata pencaharian utama bagi penduduk setempat. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi yang dapat menjadi titik temu untuk mempertahankan fungsi lahan sebagai tempat bertani sekaligus untuk memenuhi kebutuhan rumah hunian terutama di daerah Kota Bogor.

Bogor Agrovillage sebagai salah satu unit usaha dari PT Agrovillage Indonesia hadir untuk menjawab masalah strategis ini dengan menggabungkan konsep pertanian produktif dan pemukiman di dalam satu area. Pemilihan Kecamatan Bogor baratsebagai lokasi pengembangan didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu faktor lingkungannya yang nyaman, kontur lahannya yang cocok untuk berbagai komoditas pertanian, serta akses yang semakin mudah dengan adanya Pintu Tol yang direncanakan rampung pada pertengahan tahun 2019.


2.3    Tujuan, Potensi, dan Rencana Pencapaian Bisnis

Bisnis yang baik akan selalu memberi manfaat sebesar-besarnya kepada berbagai pihak dan komunitas yang terdampak dengan adanya bisnis tersebut. Konsep pertanian terpadu disertai hunian tempat tinggal di daerah Bogor barat yang kami tawarkan sangat memperhatikan kebermanfaatan mulai dari aspek ekonomi, sosial, serta lingkungan.

Bogor Agrovillage memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan konsep pertanian terpadu sekaligus mengurangi praktik alih fungsi lahan yang banyak terjadi di kota besar. Ke depannya, pola bisnis Agrovillage ini dapat menjadi model pengembangan daerah yang lain agar tingginya permintaan rumah tinggal tidak menggerus kondisi dan kultur lahan pertanian produktif namun dapat menjadi stimulus pembangunan daerah dengan adanya sistem pertanian terpadu.

Pengembangan usaha model baru ini tentu tidak dapat dilakukan tanpa perencanaan awal yang matang. Riset awal perlu dilakukan untuk memastikan lahan pertanian terpadu memiliki produktivitas yang jauh lebih optimal dibanding lahan pertanian konvensional. Tahun pertama akan digunakan untuk riset di bidang pertanian hingga menemukan kombinasi yang pas untuk memaksimalkan potensi lahan yang ada dan 1 tahun setelahnya digunakan untuk memulai perjalanan bisnis yang telah dirancang. Kami optimis, dalam waktu 4 tahun, model usaha ini dapat menjadi contoh pola pengambangan daerah dan dapat memberikan manfaat ke seluruh wilayah terutama daerah rural di seluruh Indonesia.


2.4    Keunikan Produk

         Konsep pertanian terpadu yang mengkombinasikan komoditas tanaman hortikultur, hewan ternak, dan perikanan

         Pemberdayaan komunitas petani lokal untuk bersama-sama mengembangkan Bogor Agrovillage

         Seluruh komoditas yang ada dipelihara secara intensif dan tersertifikasi organik

         Penghuni yang tinggal di kawasan Agrovillage dapat menikmati hasil pertanian secara langsung untuk kebutuhan makan sehari-hari



BAB III

PEMASARAN


3.1         Riset dan Analisis

Pertanian terpadu dengan konsep adanya rumah tinggal hunian merupakan solusi tepat bagi para investor yang ingin memulai usaha di bidang agribisnis. Oleh karena itu, segmentasi pasar untuk Bogor Agrovillage diutamakan untuk kelas menengah atas yang tinggal di daerah padat penduduk agar menyimpan sebagian asetnya sebagian di daerah sekaligus untuk menggerakkan roda perekonomian di daerah tersebut. Konsep pertanian terpadu ini sendiri masih sangat sedikit dilakukan di Indonesia sehingga produktivitas lahan pertanian cenderung kecil dan tidak menarik minat para investor untuk menanam sebagian modalnya di sektor agribisnis.

Di luar negeri sendiri, investasi pada sektor pertanian sudah mulai berkembang dikarenakan profit yang cukup menjanjikan dengan munculnya teknologi intensifikasi pertanian. Oleh karena itu, Bogor Agrovillage sebagai pionir pengembang berbasis pertanian terpadu sekaligus rumah hunian dapat dikategorikan sebagai suatu hal yang baru dalam dunia investasi agrobisnis.


Strength

   Pembangunan berkelanjutan

   Unik

   Ikut memberdayakan masyarakat sekitar

   Mendukung kelestarian dan potensi alam sekitar

   Lokasi strategis

   Pola kerjasama menggunakan sistem syariah


Weakness

   Belum dikenal

   Diperlukan riset terus menerus secara intensif

   Perizinan dan legalitas bisa terkendala aturan yang ada


Opportunity

   Menjadi model pengembangan daerah pertanian

   Belum ada saingan serupa


Threat

   Rawan terkena pembangunan daerah

   Rawan adanya penolakan dari masyarakat sekitar



3.2         Ukuran Pasar dan Tren


























Gambar Ukuran Pasar

Hasil analisis untuk tren terkini dan ke depan untuk inovasi pertanian terpadu menghasilkan konsep Bogor Agrovillage yang dapat menyelesaikan beberapa persoalan sekaligus. Beberapa fakta pendukung pada pasar yang berkaitan dengan konsep Agrovillage diantaranya:

1.      Laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat menjadikan kebutuhan rumah tinggal terus meningkat
2.      Produktivitas pertanian di Indonesia khususnya Jawa Barat masih sangat rendah jika dibandingkan negara berkembang lainnya seperti Thailand, Korea, dan Jepang

3.      Alih fungsi lahan pertanian produktif yang terjadi di Kota Bogor mencapai 30 hektar pertahun
4.      Terus meningkatnya konsumsi pangan akibat pertambahan penduduk yang diperparah dengan menurunnya lahan pertanian produktif
5.      Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap komoditas pangan organik yang lebih sehat untuk dikonsumsi


3.3         Kompetisi

Bogor Agrovillage hingga saat ini merupakan pionir pengembang pertanian terpadu yang disertai dengan rumah tinggal pertama di Indonesia, sehingga dapat dikatakan belum ada kompetitor bisnis sejenis sebagaimana konsep Bogor Agrovillage. Kompetitor potensial dari Bogor Agrovillage ini adalah pengembang perumahan konvensional yang tersebar luas hampir di seluruh area Kota Bogor.

3.4         Rencana Pemasaran

Salah satu hal terberat dalam menawarkan investasi untuk Bogor Agrovillage ini adalah konsep gabungan pertanian terpadu denan hunian tinggal yang belum dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini diperkuat dengan riset kata kunci yang dicari melalui mesin pencari Google.
















Gambar Hasil analisa kata kunci "agrovillage" pada Google Keyword Planner

Jika dilihat pada gambar di atas, kata kunci “agrovillage” atau yang berkaitan dengan kombinasi pertanian dan perumahan hanya dicari rata-rata oleh 10-30 pengguna Google Indonesia dalam satu bulan. Jika dilihat dengan Google Trends, didapatkan bahwa kata kunci “agricultural village” dan turunannya baru dikenal sejak tahun 2009, artinya konsep pertanian terpadu dengan perumahan hunian memiliki prospek cerah ke depan dan akan terus meningkat sebagaimana ilustrasi berikut.
























Gambar Hasil analisa kata kunci "agrivillage" dan turunannya pada Google Trends


Metode pemasaran yang pertamakali harus dilakukan berdasarkan analisa diatas ialah memperkenalkan konsep Agrovillage yang belum dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, perencanaan pemasaran kami pada saat peluncuran Bogor Agrovillage adalah memperkenalkannya ke publik terlebih dahulu dengan beberapa metode:

1.      Direct selling kepada pelaku-pelaku agrobisnis di tingkat nasional

2.      Memeperkenalkan lewat event serta komunitas pengusaha sektor agro di Indonesia
3.      Promosi melalui media online terutama untuk website yang spesifik membahas mengenai jual beli lahan dan properti seperti Rumah123.com dan Lamudi Indonesia




BAB IV

PELAKSANAAN BISNIS


4.1         Lokasi


Lokasi pembangunan Bogor Agrovillage terletak di sebelah barat Kota Bogor. Lahan ini terletak di ketinggian 1300 m di atas permukaan laut dan memiliki karakter tanah yang cocok untuk berbagai tanaman hortikultur.

4.2         Akses Transportasi

Jalan Raya Bogor Barat merupakan salah satu jalur utama di sebelah barat Kab. Bogor, sehingga untuk transportasi hasil pertanian dari tempat produksi tidak menjadi masalah. Sepanjang jalan ini, dapat ditemui berbagai jenis transportasi mulai dari truk, pick-up, kendaraan pribadi serta angkutan umum. Akses distribusi juga cukup mudah karena rencananya akan dibuka Gerbang Tol  pada tahun 2019 ini, atau bisa juga melewati Gerbang Tol yang berjarak sekitar 30 km dari rencana lokasi Agrovillage.

4.3         Kependudukan

Mayoritas mata pencaharian utama penduduk di daerah Bogor Barat adalah petani dan peternak, sehingga keberadaan Bogor Agrovillage dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat di desa tersebut untuk belajar sekaligus mengembangkan sistem pertanian terpadu demi meningkatkan produktivitas lahan tani. Kapadatan penduduk yang tidak terlalu tinggi di desa ini juga menjadi keuntungan tersendiri dikarenakan suasana asri dan bebas polusi dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup panjang.

4.4         Fasilitas Umum

Lokasi pengembangan agrovillage ini masih cukup strategis untuk kehidupan sehari-hari karena dekat dengan beberapa fasilitas publik ya
ng cukup vital disekitarnya seperti:


     RSUD

     Kantor Kecamatan

: 15.3 km

: 7.7 km


         Sarana Pendidikan SD, SMP : 5 km

Pasar Tradisional
: 4.7 km
Jaringan Listrik
: Ada
Instalasi Mata Air
: Ada, jarak pipa 2 km
Sinyal Telepon Selular
: Ada







BAB V

MANAJEMEN


Tim Manajemen dari perusahaan kami terdiri dari satu orang CEO, satu konsultan hukum senior, satu CFO, satu COO dan satu CMO. Chief Executive Officer (CEO) Bogor Agrovillage menduduki peringkat teratas dalam tim manajemen, CEO inilah yang bertugas mempimpin serta merencanakan strategi pengembangan perusahaan ke depan.
Gambar Struktur Tim Manajemen

Dalam pengembangannya, Bogor Agrovillage membutuhkan saran dan masukan dari orang-orang yang ahli dalam bidang pertanian terpadu serta tata kelola lahan. Oleh karena itu, kami akan merekrut berbagai pakar dari institusi pendidikan terkait untuk menjadi penasihat kami.




BAB VI

FINANSIAL


Perencanaan finansial perlu dilakukan untuk memprediksi prospek bisnis Bogor Agrovillage dalam jangka panjang menguntungkan atau tidak. Produksi hasil pertanian terpadu dari Agrovillage harus memiliki proyeksi keuntungan yang menarik sehingga para investor yakin untuk menanamkan sahamnya atau meminjamkan modal untuk mendukung pengembangan lahan berbasis pertanian terpadu ini. Beberapa parameter ekonomi yang digunakan antara lain Net PresentValue, (NPV), Interest Rate of Return (IRR), Payback Period (PBP), Sensitivity Analysis (SA), dan Break Even Point(BEP). Basis perhitungan yang digunakan adalah:

a.       Pembangunan sistem produksi hasil pertanian dilakukan selama 2 tahun

b.      Semua harga dalam rupiah dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar US adalah Rp13.500,00 (17 Februari 2019)

c.       Suku bunga bank adalah 7,25% (14 Januari 2019)

d.      Depresiasi sebesar 10%

e.       Income Tax sebesar 15%


6.1
Tahap Perencanaan dan Pembangunan














Pada masa awal perancangan Bogor Agrovillage, dibutuhkan perencanaan yang


matang  meliputi  sistem  produksi  pertanian,  perizinan  pengembangan  lahan


pertanian, serta persiapan awal (land clearing). Secara umum, jadwal pelaksanaan


pengembangan lahan Bogor Agrovillage sesuai dengan tabel berikut:

























No
Uraian Pekerjaan










Bulan



I

II

III

IV

V

VI

VII

VIII

IX

X







































i
Perizinan






















ii
Penguasaan Lahan






















iii
Persiapan Lokasi






















iv
Pengerjaan Prasarana






















v
Pengerjaan Lahan Pertanian Terpadu






















Instalasi Sistem Irigasi























Pengerjaan Greenhouse























Pengerjaan Kandang Sapi/Domba























Pengerjaan Kandang Unggas























Pengerjaan Kolam Ikan























Pembibitan























Pengerjaan Finishing Lahan Tani






















vii
Pengerjaan Bangunan Rumah























Pengerjaan Pondasi























Pengerjaan Bangunan Utama























Pengerjaan Sanitasi














































Pengerjaan Listrik























Pengerjaan Finishing Bangunan






















vi
Marketing























Penjualan






















vii
Akad Pembiayaan






















vii
Operasional












































































BAB VII
STRATEGI PANEN


7.1         Transfer Aset

PT Agrovillage Indonesia akan melakukan transfer aset kepada pemilik yang baru sesuai kesepakatan bersama apabila tujuan perusahaan telah tercapai. Adapun mekanisme transfer aset adalah sebagai berikut:

1.      Kontrak resmi yang menyatakan bahwa PT Agrovillage Indonesia menyerahkan aset perusahaan kepada pemiliknya yang baru.
2.      Memberikan pelatihan kepada pemilik baru untuk menjalankan bisnis proses Bogor Agrovillage
3.      Mendampingi pemilik baru dalam mengelola Bogor Agrovilage selama dua bulan hingga menjamin proses pengelolaan tetap berjalan dengan baik.
Apabila PT Agrovillage Indonesia gagal mencapai tujuannya, maka transfer aset hanya akan dilakukan kepada perusahaan lain yang dipandang PT Agrovillage Indonesia paling siap dalam meneruskan usaha ini.

7.2         Keberlanjutan Bisnis

Agar bisnis Bogor Agrovillage dapat berkembang secara berkelanjutan, perusahaan akan fokus untuk terus meningkatkan produktivitas serta kualitas hasil pertanian terpadu. Prioritas selanjutnya, perusahaan dapat mengembangkan unit usaha Bogor Agrovillage sebagai obyek agrowisata dan juga penyewaan hunian tinggal.






BAB VIII 
PENUTUP


 Demikian proposal ini  kami buat, besar harapan kami agar semua pihak dapat mendukung dan bekerja sama untuk mambantu perusahaan melaksanakan jenis usaha di bidang agribisnis. Sehingga dapat berjalan dengan baik.
Atas kerjasamanya kami ucapkan banyak terima kasih